BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pencemaran air di Medan saat ini semakin memprihatinkan. Pencemaran air dapat diartikan sebagai suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air seperti danau, sungai, lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia. Perubahan ini mengakibatkan menurunnya kualitas air hingga ke tingkat yang membahayakan sehingga air tidak bisa digunakan sesuai peruntukannya. Fenomena alam seperti gunung berapi, badai, gempa bumi dll juga mengakibatkan perubahan terhadap kualitas air, tapi dalam pengertian ini tidak dianggap sebagai pencemaran.
Pencemaran air di estuari seperti yang terjadi di Estuari Bagan Deli teruatama disebabkan oleh sampah plastik di sekitar estuari. Padahal estuari merupakan salah satu jenis ekosistem yang menjadi habitat berbagai jenis organisme. Pada pengamatan kali ini, kami mengamati pencemaran yang terjadi di sekitar Estuari Bagan Deli. Estuari didefinisikan sebagai badan air di wilayah pantai yang setengah tertutup, yang berhubungan dengan laut bebas. Oleh karena itu ekosistem ini sangat dipengaruhi oleh pasang surut dan air laut bercampur dengan air darat yang menyebabkan salinitasnya lebih rendah daripada air laut. Muara sungai, rawa pasang-surut, teluk di pantai dan badan air di belakang pantai pasir temasuk estuari.
Biota yang hidup di ekosistem estuari umumnya adalah percampuran antara yang hidup endemik, artinya yang hanya hidup di estuari, dengan mereka yang berasal dari laut dan beberapa yang berasal dari perairan tawar, khususnya yang mempunyai kemampuan osmoregulasi yang tinggi. Bagi kehidupan banyak biota akuatik komersial, ekosistem estuari merupakan daerah pemijahan dan asuhan. Kepiting (Scylia serrata), tiram (Crassostrea cucullata) dan banyak ikan komersial merupakan hewan estuari. Udang niaga yang memijah di laut lepas membesarkan larvanya di ekosistem ini dengan memanfaatkannya sebagai sumber makanan.

B. Rumusan Masalah

1. Apakah jenis pencemaran yang terjadi di sekitar Estuari Bagan Deli ?
2. Bagaimana kondisi hewan dan tumbuhan di sekitar Estuari Bagan Deli ?
3. Bagaimana kondisi sosial dan kesehatan penduduk di sekitar Estuari Bagan Deli ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui jenis pencemaran yang terjadi di sekitar Estuari Bagan Deli.
2. Untuk mengetahui Kondisi Hewan dan Tumbuhan di sekitar Estuari Bagan Deli.
3. Untuk mengetahui sosial dan kesehatan penduduk di sekitar Estuari Bagan Deli.

D. Waktu dan Tempat Pengamatan
Pengamatan di lakasanakan di Estuari Bagan Deli pada hari jumat tanggal

BAB 2
Landasan Teori
A. Pengertian Ekosistem Estuari
Pengertian Estuari menurut para ahli :
1. Pengertian Estuari menurut Lauff (1961) Estuari sebagai perairan yang semi tertutup menerima air tawar yang mengalir dari daratan dan sekitarnya serta mempunyai hubungan bebas dengan laut lepas.
2. Pengertian Estuari menurut Reid (1961). Estuari sebagai perairan tertutup yang mempunyai hubungan langsung dengan laut dan keadaan lingkungannya sangat dipengaruhi oleh aktifitas pasang surut, sehingga terjadi pencampuran dengan air tawar
3. Pengertian Estuari menurut Knight (1965). Estuari adalah saluran dimana air pasang-surut yang datang dengan arus sungai, daerah tersebut merupakan bagian dari laut yang terletak pada ujung dari muara sungai.
4. Pengertian Estuari menurut Dyer (1997). Estuari adalah perairan yang semi tertutup yang berhubungan bebas dengan laut, meluas ke sungai sejauh batas pasang naik, dan bercampur dengan air tawar, yang berasal dari drainase daratan.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Estuaria adalah bagian dari lingkungan perairan yang merupakan pencampuran antara air luat dan air tawar yang berasal dari sungai, sumber air tawar lainnya (saluran air tawar dan genangan air tawar) dengan adanya proses pencampuran maka wilayah estuaria sangat dipengaruhi oleh kadar salinitas, dimana wilayah estuaria dibagi menjadi beberapa mintakat yaitu Hyperhaline, Euhaline, Mixohaline, oligohaline, dan Limnetik (Air tawar). Dengan ciri dan karakteristik tersebut estuaria memiliki banyak tipe yang diklasifikasikan berdasarkan atas topografi, pengenceran air tawar dan penguapan, geomorfologi, sirkulasi dan struktur dari sirkulasi, distribusi salinitas, pola pencampuran air tawar dan air laut serta stratifikasinya. Dari tipe tersebut ekosistem estuaria sangat dipengaruhi oleh kadar salinitas, suhu, sedimen, gelombang, pasang surut, substrat, ketersediaan oksigen, dan parameter kimia seperti limbah dan bahan polutan serta aktivitas biologi dari organisme yang hidup di kawasan estuaria. Karena perairan estuary mempunyai Salinitas yang lebih rendah dari lautan dan lebih tinggi dari air tawar (Anomin. 2012)
B. Tipe-tipe Estuari
Estuari dapat dikelompokkan atas empat tipe, berdasarkan karakteristik geomorfologinya, sebagai berikut :
1. Estuari daratan pesisir, paling umum dijumpai, dimana pembentukannya terjadi akibat penaikan permukaan air laut yang menggenangi sungai di bagian pantai yang landai.
2. Laguna (Gobah) atau teluk semi tertutup, terbentuk oleh adanya beting pasir yang terletak sejajar dengan garis pantai sehingga menghalangi interaksi langsung dan terbuka dengan perairan laut.
3. Fjords, merupakan Estuari yang dalam, terbentuk oleh aktivitas glesier yang mengakibatkan tergenangnya lembah es oleh air laut.
4. Estuari tektonik, terbentuk akibat aktivitas tektonik (gempa bumi atau letusan gunung berapi) yang mengakibatkan turunnya permukaan tanah yang kemudian digenangi oleh air laut pada saat pasang.
C. Komponen Biotik dan Abiotik Ekosistem Estuari
Ekosistem dapat bermacam-macam bentuknya sesuai dengan bentangan atau hamparan tempat eosistem berada, seperti ekosistem hutan, rawa, danau dan lain-lain. Namun, jika dilihat dari komponennya terdiri atas komponen fisik ( abiotik ) dan hayati ( biotik ). Komponen abiotik terdiri dari komponen yang bukan makhluk hidup, contohnya tanah, udara, sushu, angin, curah hujan dan lain-lain. Sifat fisik estuarin yang mempunyai variasi yang besar dalam banyak parameter yang sering kali menciptakan suatu lingkungan yang sangat menekan bagi organisme. Keanekaragaman hayati di estuaria terdiri dari flora, fauna dan plankton. Ada empat jenis fauna di estuaria yaitu fauna di lautan, air payau, air tawar dan peralihan. Jumlah spesies di estuaria jauh lebih sedikit daripada di air tawar atau air laut disekitarnya.
D. Keunikan Estuari
Lingkungan estuary merupakan kawasan yang sangat penting bagi berjuta hewan dan tumbuhan. Pada daerah-daerah tropis seperti di , lingkungan estuary umumnya di tumbuhi dengan tumbuhan khas yang di sebut Mangrove. Tumbuhan ini mampu beradaptasi dengan genangan air laut yang kisaran salinitasnya cukup lebar. Pada habitat mangrove ini lah kita akan menemukan berjuta hewan yang hidupnya sangat tergantung dari kawasan lingkungan ini.
Sebagai lingkungan perairan yang mempunyai kisaran salinitas yang cukup lebar, estuary menyimpan berjuta keunikan yang khas. Hewan-hewan yang hidup pada lingkungan perairan ini adalah hewan yang mampu beradaptasi dengan kisaran salinitas tersebut. Dan yang paling penting adalah lingkungan perairan estuary merupakan lingkungan yang sangat kaya akan nutrient yang menjadi unsure terpenting bagi pertumbuhan phytoplankton.
Keistimewaan lingkungan perairan estuary lainnya adalah sebagai penyaring dari berjuta bahan buangan cair yang bersumber dari daratan. Sebagai kawasan yang sangat dekat dengan daerah hunian penduduk, daerah estuary umumnya di jadikan daerah buangan bagi limbah-limbah cair (kita tidak membahas limbah padat di sini yang benar-benar merusak sebagian besar lingkunagn estuary). Limbah cair ini mengandung banyak unsure diantaranya nutrient dan bahan-bahan kimia lainnya. Dalam kisaran yang dapat di tolelir, Kawasan estuary umumnya bertindak sebagai penyaring dari limbah cair ini, mengendapkan partikel-partikel beracun dan menyisakan badan air yang lebih bersih. Inipun dengan kondisi dimana terjadi suplai yang terus-menerus dari air sungai dan laut yang cenderung lebih bersih dan mentralkan sebagaian besar bahan polutan yang masuk ke daerah estuary tersebut.
Disamping itu semua, Hal yang sangat berhubungan dengan masyarakat dan kegiatan ekonomi masyarakat, lingkungan kawasan perairan estuary kebanyakan di jadikan sebagai lahan budidaya bagi ratusan kenis ikan, bivalve (oyster dan clam), crustacean (kepiting) dan invertebrate lainnya.


BAB 3
Hasil Pengamatan Pencemaran di Estuari Bagan Deli
A. Pembuangan Sampah di Pemukiman Nelayan.
Estuaria merupakan wilayah yang sangat dinamis (dynamics area), rentan terhadap perubahan dan kerusakan lingkungan baik fisik maupunbiologiekosistem) dari dampak aktifitas manusia di darat ataupun pemanfaatan sumberdaya perairan laut secara berlebihan(over-xploited). Daerah estuarin merupakan tempat hidup yang baik bagi populasi ikan jika dibandingkan dengan jenis ikan lainnya.
Daerah ini merupakan tempat untuk berpijah dan membesarkan anak-anaknya bagi beberapa spesies ikan. Adapun faktor yang menyebabkan daerah ini mempunyai nilai produktivitas tinggi yaitu, disana terdapat suatu penambahan bahan- bahan organik secara terus menerus yang berasala dari daerah aliran sungai, perairan estuarin adalah dangkal, sehingga cukup menerima matahari untuk membantu kehidupan tumbuh-tumbuhan yang sangat banyak, daerah estuarin merupak tempat yang relative kecil menerima aksi gelombang akibatnya detritus dapat menumpuk didalamnya, aksi pasang selalu mengaduk-aduk bahan organic yang berada disekitar tumbuh-tumbuhan. Kamingnya, manuasia membuat daerah ini menjadi tempat yang lebih tercemar daripada bagian lautan lainya.pembuangan sampah.
Estuaria merupakan salah satu bentuk atau tipe pesisir yang terjadi di pantai, dan merupakan suatu tempat yang spesifik. Terdapat 2 faktor prinsipal yang mempengaruhi suatu keadaan hidrodinamisme dari estuaria, yaitu aliran sungai dan arus pasang surut. Pada saat air pasang, air laut akan masuk dan mempengaruhi kadar salinitas serta kualitas air yang ada dalam estuaria tersebut. Biasanya daerah hilir sungai atau estuaria selalu dihubungkan dengan biota atau organisme yang hidup di air tawar. Estuaria juga berfungsi antara lain: sebagai tempat pemijahan dan tempat perlindungan, dan telah digunakan sejak dulu sebagai tempat penangkapan tradisional dan akuakultur.
Kawasan estuari merupakan suatu wilayah yang memiliki potensi sumber daya alam yang sangat potensial bagi upaya mendukung program pembangunan berkelanjutan dan menjadi tumpuan harapan pembangunan nasional Indonesia di masa mendatang. Hal ini disebabkan oleh karena potensi sumber daya alam yang terdapat di darat semakin lama semakin menipis atau terkuras habis oleh berbagai kegiatan. Perspektif pembangunan menganggap kawasan pesisir sebagai suatu daerah dengan budaya yang khas. Dengan potensi sumberdaya yang besar, daerah tersebut sangat rawan terhadap konflik pembangunan sehingga merupakan suatu ancaman bagi lingkungannya sendiri. Berbagai aktivitas pembangunan industri, permukiman, pertanian, budidaya, pariwisata dan lain sebagainya, yang dilakukan di kawasan estuari selalu menimbulkan dampak negatif yang mengarah pada rusak atau punahnya ekosistem lingkungan. Dampak negatif yang sangat nyata terlihat antara lain : polusi atau pencemaran pada DAS, pesisir dan laut, erosi dan sedimentasi dan degradasi lingkungan yang semuanya mengakibatkan menurunnya kualitas lingkungan estuari.
Di kawasan estuari terdapat berbagai komponen yang merupakan suatu system dimana setiap komponen saling berpengaruh dan mempunyai hubungan satu dengan yang lain. Dalam merencanakan suatu pembangunan yang berwawasan lingkungan, perlu dikaji secara mendalam semua unsur atau komponen yang ada dikawasan terkait. Dalam hubungannya dengan pemukiman nelayan, maka perlu dikaji terlebih dahulu hubungan, interaksi, sebab-akibat serta simbiosis / adanya keterkaitan ekologis antar komponen yang ada, khususnya terhadap perumahan nelayan.
Di kawasan Teluk Belawan terdapat pemukiman nelayan yang terkonsentrasi di tiga lokasi, yaitu kelurahan Belawan Bahagia dan kelurahan Belawan I – di tepi sungai Belawan, serta di kelurahan Bagan Deli – di tepi sungai Deli.

Ketika mengunjungi perkampungan nelayan Bagan Deli pada tanggal 13 April 2012, kami melakukan pengamatan di pemukiman nelayan Bagan Deli. Nelayan membuat pemukiman dilokasi ini atas dasar pertimbangan agar letaknya dipinggir sungai dan dekat dengan laut. Sebenarnya sudah ada kompleks perumahan nelayan yang dibangun pemerintah. Namun letaknya yang cukup jauh dari laut membuat nelayan harus naik angkutan umum atau ojek untuk menuju kelaut, selain nelayan harus meninggalkan perahunya dipinggir sungai jauh dari rumahnya. Hal ini yang membuat nelayan akhirnya meninggalkan perumahan tersebut, dan memilih membangun rumah sendiri ditepi sungai Bagan Deli dekat muara.
Di temapat dapat dilihat beberapa perahu nelayan tradisional parkir di belakang rumah nelayan yang berada di atas bantaran sungai Deli. Tampak beberapa perahu nelayan sedang bergerak menuju muara kearah lautan lepas. Kesan yang tampak jelas dari atas jembatan adalah sungai yang begitu kotor dengan sampah dan perkampungan yang sangat kumuh. Karena letaknya persis diatas bantaran sungai, maka rumah harus dibangun kira-kira 1 meter diatas permukaan air sungai pada waktu surut. Menurut penduduk setempat, pada saat air pasang maka permukaan air dapat naik sampai melebihi 1 meter.

Kami memasuki perkampungan nelayan Bagan Deli. Karena letaknya 1 – 1.5 meter diatas permukaan sungai, maka akses menuju perkampungan berupa jembatan /titi yang terbuat dari kayu. Tiang penyangga terbuat dari batang pohon yang diameternya kira2 5-8 cm. Sedangkan jalan / jembatan dibuat dari kayu pohon dengan berukuran kira2 1 meter x 20 cm dengan ketebalan 5 cm. Jembatan ini sudah banyak yang keropos dan lapuk karena genangan air. Terdapat banyak kayu yang sudah lapuk, sehingga kami harus melangkah dengan sangat hati-hati
.

Beberapa penduduk mengeluhkan tidak adanya perhatian pemerintah setempat atas penderitaan mereka. Jalan jembatan / titi itu dibuat atas swadaya masyarakat setempat tanpa bantuan pemerintah yang konon tak kunjung tiba. Sudah ada beberapa orang terperosok jatuh karena kayu jempatan yang diinjak keropos dan tidak dapat menahan beban diatasnya. Pada malam hari jika air laut pasang dan tinggi air melebihi permukaan titi, tak jarang orang harus merangkak agar dapat meraba papan untuk dilalui demi menghindari resiko terperosok.

Keluhan lainnya adalah kesulitan yang dihadapi keluarga nelayan apabila akan mengadakan hajatan, pesta pernikahan atau khitanan. Demikian juga jika ada anggota keluarga nelayan yang meninggal, sangat sulit untuk mengangkut jenazah melalui jembatan yang sudah demikian hancur. Pernah suatu ketika seorang anak nelayan sakit dan harus segera dibawa ke puskesmas setempat, karena terlalu berat, maka orang yang menggendong anak yang sakit tersebut terperosok jatuh bersama anak yang digendongnya. Kami menyaksikan sendiri bagaimana anak-anak nelayan yang masih balita tidak dapat bebas bermain. Mereka dipaksa selalu berada dekat ibunya agar tidak terperosok di jembatan yang sudah banyak lubang-lubangnya itu. Beberapa ibu-ibu yang kami temui selalu menyampaikan harapannya agar kami mau menyampaikan keluhan mereka kepada pemerintah setempat.

Kenyataan lain yang kami temui di perkampungan nelayan BaTam adalah TIDAK ADA TEMPAT SAMPAH. Kami tidak pernah melihat tempat sampah dimanapun kami mampir. Ketika hal tersebut kami tanyakan kepada para penduduk, mereka dengan polosnya mengatakan sampah langsung dibuang ke sungai atau ke bawah rumah. Kalau begini terus suatu saat sungai akan semakin dangkal dan secara tidak langsung akan berpengaruh negatif pada kelangsungan kehidupan nelayan.

B. Kondisi Hewan dan Tumbuhan di sekitar Estuari Bagan Deli
Daerah Kelurahan Bagan Deli Kecamatan Medan Belawan Kotamadya Medan Provinsi Sumatera Utara telah banyak mengalami kerusakan. Hal ini tampak pada adanya ahli fungsi mangrove menjadi tempat domestik masyarakat, pembangunan PLN, dan sebagainya. Di daerah Belawan, pertumbuhan mangrove sudah semakin menurun seiring kemajuan zaman. Pembangunan rumah, tower dan sebagainya membuat semakin punahnya keberadaan mangrove.
Tetapi, ada juga sebagian masyarakat sekitar melakukan reboisasi (penanaman kembali) tumbuhan mangrove. Hal ini dikarenakan mangrove mempunyai banyak kegunaan diantaranya dapat mencegah abrasi/ erosi, gelombang atau angin kencang, pengendali intrusi air laut dan lain sebagainya. Tetapi, mangrove juga memiliki manfaat ekonomis diantaranya dapat menghasilkan kayu (kayu konstruksi, tiang/pancang, kayu bakar, arang, serpihan kayu (chips) untuk bubur kayu), dan hasil hutan ikutan (tannin, madu, alkohol, makanan, obat-obatan)
Daerah Belawan memiliki kontur yang cukup rumit. Hal tersebut tampak pada sebagian daerah hutan mangrove ada yang hampir semuanya telah ditebang dan diganti dengan pemukiman penduduk. Namun di beberapa bagian lahan yang kosong, penduduk menanami dengan mangrove sehingga mangrove yang telah ditebang digantikan dengan yang baru (melakukan reboisasi). Pada beberapa bagian yang lain juga masih terlihat bahwa mangrove masih memenuhi daerah tersebut, walaupun disekitar daerah tersebut sudah mulai banyak ditemukan pondasi-pondasi tiang listrik PLN, kemudian tidak jauh dari tempat itu juga didirikan tiang-tiang listrik yang berdiri di antara hutan mangrove yang masih lebat.
Daerah Sungai Belawan juga sudah sangat tercemar. Dikarenakan banyaknya pabrik-pabrik yang berada di sekitar sungai yang membuang limbahnya langsung ke sungai. Hal tersebut bukan hanya mengganggu pertumbuhan mangrove tetapi juga mengganggu ekosistem flora dan fauna yang hidup di sekitar sungai Belawan tersebut.
C. Kondisi Sosial dan Kesehatan Penduduk di sekitar Estuari Bagan Deli
Umumnya masyarakat di sekitar sungai Estuari Bagan Deli adalah nelayan. Setiap hari nelayan tersebut menguras hasil laut sekitar Estuari tersebut. Wilayah pesisir dan lautan merupakan bagian dari lingkungan hidup yang berpotensi besar dalam menyediakan sumberdaya kehidupan. Perairan pesisir menjadi tempat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari para nelayan, tetapi juga sebagai tempat pembuangan limbah cair dan pembuangan sampah. Selain itu perairan pesisir digunakan sebagai pelabuhan arus perdagangan berbagai komoditi. Dilain pihak pesisir merupakan sumber masukan pendapatan oleh pemerintah guna mendukung pembangunan daerah. Dalam pencapaian target pembangunan lingkungan perairan pesisir berkelanjutan diperlukan indikator kinerja yang tak terlepas dari indikator pembangunan berkelanjutan mencakup faktor sosial, ekonomi, dan lingkungan serta kelembagaan. Faktor tersebut merupakan dasar pertimbangan dalam perencanaan, pengelolaan dan pelaksanaan pembangunan yang berkaitan dengan pengelolaan pesisir.

Sampah yang mencemari sungai di sekitar estuari oleh aktivitas manusia mengakibatkan kualitas lingkungan turun sehingga tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukkannya. Sampah yang dibuang di sekitar Estuari berupa sampah organik maupun sampah anorganik yang biasanya mengandung zat berbahaya dan beracun. Limbah anorganik yang dibuang di sungai bagan Deli sangat beracun bagi organisme hidup dan manusia karena mempunyai bahan aktif dan logam-logam berat. Daya racun dari logam aktif misalnya seperti air raksa dapat bekerja sebagai penghalang kerja enzim dan menyebabkan kerusakan sel, sehingga mengganggu metabolisme tubuh. Disamping itu bahan beracun dapat terakumulasi dan menumpuk dalam tubuh manusia jika penduduk sekitar mengkonsumsi ikan yang telah tercemar. Hal ini dapat mengakibatkan timbulnya penyakit yang bersifat kronis. Limbah padat dan cair yang di buang di pantai Wosi diantaranya berupa tumpukan plastik, minyak, kaleng, karton dan lain sebagainya. Bahan organik terlarut dapat menimbulkan rasa, warna dan bau tidak sedap akibat adanya aktivitas bakteri pembusuk. Bau yang tidak sedap sering kali mengundang lalat dan tikus yang dapat membawa bibit penyakit kepada manusia. Bibit penyakit juga dapat dibawa oleh angin sehingga membuat udara disekitar ikut tercemar. Limbah domestik yang dibuang dapat mengandung bakteri patogen, parasit, dan virus. Selain itu bahan-bahan domestik yang terdapat di pesisir pantai dan yang mengendap di dasar perairan mengurangi kandungan oksigen terlarut oleh karena peningkatan bakteri dan ganggang yang melakukan proses perombakan. Peningkatan bakteri pengurai juga dapat menimbulkan proses eutrofikasi dan peningkatan temeperatur di perairan. Hal ini tentunya menimbulkan masalah bagi berbagai jenis ikan dan organisme lain yang hidup di sekitarnya. Kuantitas limbah yang terus menerus meningkat oleh karena meningkatnya kebutuhan manusia, mengkontribusi kepada meningkatnya mortalitas dan menambah parahnya penyakit yang tidak dapat dipulihkan. Limbah beracun yang membahayakan kesehatan dapat bersifat radioaktif, mutagentik, iritasi, patogenik dan mudah membusuk.
Tingkat keracunan dan bahaya dari limbah tergantung kepada jenis dan karakteristiknya, baik dalam jangka pendek maupun jangka penjang. Sampah yang dibuang di pantai dapat terbawa oleh ombak dan arus sehingga mengakibatkan daerah lain juga ikut tercemar. Sampah di sekiar estuari tidak hanya di sekitar sungai tetapi juga banyak bertebaran di pinggir jalan, pasar dan bahkan menyumbat selokan air. Bau busuk juga timbul jika sampah yang basah mengalami penguapan. Selain sampah, masyarakat belum menyadari bahwa pentingnya membuat tempat pembuangan tinja. Banyak perumahan di sekitar Estuari Bagan Deli yang memanfaatkan aliran sungai untuk membuang sampah maupun tinja. Sampah dan tinja yang tadinya di buang akan hanyut ke laut menyebabkan laut juga ikut tercemar. Selain itu akan memperburuk kualitas air sungai, menjadikannya sebagai sumber penyebaran penyakit. Untuk itu pembuangan limbah perlu memenuhi syarat kesehatan yang layak dan aman sehingga tidak mencemari lingkungan. Pembuangan tinja yang aman biasanya disalurkan ke dalam septik tank.

D. Kondisi MCK Penduduk di sekitar Estuari Bagan Deli
Masyarakat di sekitar sungai perlu merubah perilaku tentang pemanfaatan sungai, agar sungai tidak lagi dipergunakan sebagai tempat pembuangan sampah dan tempat mandi-cuci-kakus (MCK). Selain itu kebiasaan membuang sampah ke sungai dan di sembarang tempat hendaknya diberantas. Peraturan pembuangan sampah perlu tetapkan di lingkungan masing-masing secara konsekuen yaitu dengan memberlakukan tenda yang tinggi kepada orang yang melanggarnya. Selain itu perlu ditetapkannya baku mutu lingkungan dan menyediakan tempat pembuangan sampah yang aman dan dapat dijangkau oleh masyarakat. Masyarakat yang hidup di daerah kumuh perlu diberikan penyuluhan dan pendidikan mengenai pentingnya kebersihan lingkungan. Semetara itu diperlukan juga upaya penanggulangan yang meliputi penyediaan teknolgi yang membantu dalam pengolaan sampah, termasuk recycle dan reuse, penyediaan tenaga kerja, dan melakukan kerja bakti bersama dalam memperingati hari kebersihan kota setempat.
Kesadaran lingkungan perlu ditimbuhkan kepada semua lapisan masyarakat karena ini merupakan partisipasi masyarakat sebagai pelaku pembangunan dan sekaligus penerima resiko dari dampak pencemaran. Jika masyarakat sadar akan hidup bersih dan sehat maka akan tercipta pantai yang bersih dan memiliki fungsi ekologis. Hidup bersih sangat penting karena merupakan bagian dari jiwa kita. Jika kebersihan di Kota Belawan tepatnya di ekitar Estuari Bagan Deli telah terjamin, maka kota Belawan akan menjadi kota yang sehat, indah dan nyaman untuk ditempati 

BAB 4
Kesimpulan dan Saran

Daftar Pustaka
http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/
http://chachazyzy.blogspot.com/2012/23/ekosistem-estuari.html
http ://idmandang.wordpress.com/2007/01/17/karakteristik-estuari/
http://repository.ipb.ac.id